Sabtu, 09 Maret 2013

Bangkitlah! Hai Serambi Mekah



                                                               mymoen.wordpress.com



Film dokumenter “My Beloved Atjeh” ini menceritakan tentang peristiwa tsunami yang menimpa Aceh pada tanggal 26 Desember 2004. Gempa dan tsunami ini memporakporandakan sekitar 60 km dari pesisir Nanggroe Aceh Darussalam. Dimulai dari Kawasan Pantai Ulee Lheue yang hancur bangunannya, rumahnya, bahkan mayat pun bertebaran dimana-mana. Kawasan Peukan Bada pun sama, diceritakan sebelumnya bocah-bocah sedang asyik bermain, menangkap ikan setelah laut surut. Tiba-tiba gulungan ombak datang menggulung mereka seperti kapas yang berterbangan.  Tidak ada lagi Meulaboh, Banda Aceh, Calang, Teunom, Lamno, Lhokseumawe, Bireun, Sigli, semuanya hancur diterpa ombak yang ganas.  Sekitar 1500.000 orang meninggal sebagai martir, ratusan anak menjadi yatim piatu, berlindung di kamp-kamp pengungsi yang berbeda.

Sekarang peristiwa tersebut sudah berlalu. Aceh pun mulai bangkit dari kejadian yang mencekam itu. Para penjual kopi traditional Aceh pun sudah mulai berjualan. Anak-anak pun sudah mulai bermain lagi, walaupun keadaan sekarang berbeda. Makan seadanya, mandi pun berbarengan dengan anak-anak yang lain. Tapi kebersamaan  itu bisa jadi pengobat rindu karena kehilangan orang yang kita cintai dan melupakan kejadian yang mengerikan itu. Salah satunya Munawar.

Munawar dengan 150 anak korban bencana kini dalam perawatan Tengku Abdul Razak di Daugh Daruz Zahiddin, Aceh Besar. Mereka masih berjuang untuk mengatasi trauma dengan berbagai jenis kegiatan di dayah tanpa batas.

Seperti seniman Tengku Reza Idria  yang membantu masyarakat Aceh menghilangkan traumanya dengan cara mengajak berzikir dan sebagainya, supaya masyarakat cepat bangkit dan melupakan peristiwa yang kelam tersebut. Menurut Tengku Reza Idria, tsunami gagal memberi perubahan pada masyarakat Aceh. Masih banyak yang tidak memberi respon saat di ajak berzikir. Spiritual masyarakat Aceh masih sangat kurang, walaupun di katakan Aceh kota Serambi Mekah, itu hanya symbol yang di manfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu.

Peristiwa gempa dan tsunami di Aceh membuat saya tersadar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Kita hanya meminjam saja, semua pasti kembali lagi kepada-Nya. Bila Allah berkehendak hancur maka semunya pasti hancur. Dan kita hanya bisa lebih mendekatkan diri lagi kepada-Nya serta memperbanyak intropeksi diri.

Film dokumenter ini sudah bagus karena benar-benar menggambarkan kejadian tsunami di Aceh. Ditambah soundtracknya yang pas yang menggunakan music asli Aceh menjadikan kita terbawa akan suasana tersebut.

Dan sekarang saya hanya bisa memberikan semangat kepada masyarakat Aceh supaya bangkit! seperti anak ayam yang berusaha keluar dari cangkang telor, bangkit lagi wahai Negeri Serambi Mekah! Bangkit seperti awal kembali!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar