mymoen.wordpress.com
Film dokumenter “My Beloved Atjeh” ini
menceritakan tentang peristiwa tsunami yang menimpa Aceh pada tanggal 26
Desember 2004. Gempa dan tsunami ini memporakporandakan sekitar 60 km dari
pesisir Nanggroe Aceh Darussalam. Dimulai dari Kawasan Pantai Ulee Lheue yang
hancur bangunannya, rumahnya, bahkan mayat pun bertebaran dimana-mana. Kawasan
Peukan Bada pun sama, diceritakan sebelumnya bocah-bocah sedang asyik bermain,
menangkap ikan setelah laut surut. Tiba-tiba gulungan ombak datang menggulung mereka
seperti kapas yang berterbangan. Tidak
ada lagi Meulaboh, Banda Aceh, Calang, Teunom, Lamno, Lhokseumawe, Bireun,
Sigli, semuanya hancur diterpa ombak yang ganas. Sekitar 1500.000 orang meninggal sebagai
martir, ratusan anak menjadi yatim piatu, berlindung di kamp-kamp pengungsi
yang berbeda.
Sekarang peristiwa tersebut sudah berlalu.
Aceh pun mulai bangkit dari kejadian yang mencekam itu. Para penjual kopi
traditional Aceh pun sudah mulai berjualan. Anak-anak pun sudah mulai bermain
lagi, walaupun keadaan sekarang berbeda. Makan seadanya, mandi pun berbarengan
dengan anak-anak yang lain. Tapi kebersamaan itu bisa jadi pengobat rindu karena kehilangan
orang yang kita cintai dan melupakan kejadian yang mengerikan itu. Salah
satunya Munawar.
Munawar dengan 150 anak korban bencana kini
dalam perawatan Tengku Abdul Razak di Daugh Daruz Zahiddin, Aceh Besar. Mereka
masih berjuang untuk mengatasi trauma dengan berbagai jenis kegiatan di dayah
tanpa batas.
Seperti seniman Tengku Reza Idria yang membantu masyarakat Aceh menghilangkan
traumanya dengan cara mengajak berzikir dan sebagainya, supaya masyarakat cepat
bangkit dan melupakan peristiwa yang kelam tersebut. Menurut Tengku Reza Idria,
tsunami gagal memberi perubahan pada masyarakat Aceh. Masih banyak yang tidak memberi
respon saat di ajak berzikir. Spiritual masyarakat Aceh masih sangat kurang,
walaupun di katakan Aceh kota Serambi Mekah, itu hanya symbol yang di
manfaatkan oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu.
Peristiwa gempa dan tsunami di Aceh membuat
saya tersadar bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Kita hanya meminjam
saja, semua pasti kembali lagi kepada-Nya. Bila Allah berkehendak hancur maka
semunya pasti hancur. Dan kita hanya bisa lebih mendekatkan diri lagi
kepada-Nya serta memperbanyak intropeksi diri.
Film dokumenter ini sudah bagus karena
benar-benar menggambarkan kejadian tsunami di Aceh. Ditambah soundtracknya yang
pas yang menggunakan music asli Aceh menjadikan kita terbawa akan suasana
tersebut.
Dan sekarang saya hanya bisa memberikan semangat kepada masyarakat Aceh supaya bangkit! seperti anak ayam yang berusaha keluar dari cangkang telor, bangkit lagi wahai Negeri Serambi Mekah! Bangkit seperti awal kembali!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar