Minggu, 24 Maret 2013

Cinta Datang dan Pergi


Hujan seketika membasahi jalanan daerah Pangrango. Bunyi air hujan yang jatuh menjadi suara yang terdengar bersama petir yang menggelegar. Waktu pun telah menunjukkan pukul 5 sore. Seorang gadis pun keluar dari tempat lesnya dan menunggu redanya hujan. Bunyi lagu Can’t Keep My Hands Off You milik Simple Plan pun terdengar dari dalam saku bajunya. “Hallo, udah dimana? kok belum nyampe?”Katanya. Tidak terasa 30 menit telah berlalu. Hujan pun mulai menghilang seiring bergantinya langit yang mulai gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore. Tin….tin…tin… suara klakson motor pun terdengar. “Lama banget si baru nyampe! kemana aja lo Prim jam segini baru jemput!”. “Sorry tadi gue kejebak macet hehe”Kata Prima. “Kalo minjem motor orang tau diri dong! Masa yang punya motor musti nungguin si! Ayo buruan lah caw males gue ngedenger alesan lo”. Brum… brum…brum, suara motor pun ilang tenggelam di langit yang sudah gelap.

Namanya adalah Livia. Dia seorang siswi kelas 3 dari SMAN 6 Kota Bogor. Livia adalah anak yang tomboy namun sangat supel dan sangat aktif di sekolahnya. Mulai dari kelas 1 dia sudah menjadi anggota OSIS dan pernah menjadi anggota MPK pada saat kelas 2. Hanya di kelas 3 saja dia mulai menggurangi kegiatan organisasinya karena mau focus untuk masuk gerbang perguruan tinggi.

Teng..Teng..Teng.. bel masuk pun berbunyi. Pelajaran pertama pun dimulai. Lagi dan lagi Livia tergopoh-gopoh masuk ke dalam kelas. “Liviaaaa, kamu itu kerjaannya terlambat saja! Sudah seminggu ini selalu masuk kelas jam st 8 pagi. Alasan apalagi hari ini? Masa setiap hari ban motor kamu kempes si?!”. “Eh iya bu, hari ini ban nya ilang ada yang ngambil, saya aja kesini naik angkot bu jadi telat deh hehe”. Semua orang dikelas pun tertawa Ha..Ha..Ha..Ha. “Sudah..sudah diam semuanya! Livia, sudah kamu duduk sana”.  “Makasi bu”.

Bel istirahat pun berbunyi. Sekejap saja kantin sudah penuh oleh para siswa yang memburu jajanan disana. Livia bersama teman-temannya pun tidak ketinggalan untuk berebut kursi yang masi kosong. “Liv pesen apa lo?”Tanya Vanya. “Gue biasalah soto betawi sama es jeruk ya”kata Livia. “Yang lain gmana?”Tanya Vanya. “Gue mesen sendiri aja deh”Kata Sinta. “Sama gue mesen sendiri juga”Kata Ika. “Gue sama kaya Livia ya guys”Kata Tami. Vanya, Sinta, Ika pun pergi memesan pesanan. “Eh Tam, liat arah jam 3 buru. Lo tau ga itu siapa?”Kata Livia. “Mana-mana, oh dia. Gue tau dia Andi anak Akselerasi 1, kenapa?Lo suka sama dia?”Tanya Tami. “Manis banget hehe, udah punya pacar blum yaa?”Tanya Livia. “Cie..cie.. udah bisa move on lo sekarang?”Tanya Tami. “Hahaha sekedar suka doang kan boleh si asal ga cinta”kata Livia. “Alah ngeles aja lo kaya bemo “Kata Tami. Vanya, Ika dan Sinta pun datang membawa pesanan mereka. “Asyik banget si kalian, galiat apa ni tangan kita kepasanasan bawa pesanan kalian”Kata Sinta sewot. “Tau ni dari tadi dipanggil-panggil ga denger-denger”Vanya pun ikutan ngedumel. “Ngobrolin apaan si kalian?”Tanya Ika. “Biasa ni si Livia lagi naksir sama cowo “Kata Tami sambil ngelirik ke Livia. “Apaan si lo Tam, ember banget jadi orang, gue kan cuma bilang dia manis banget”Kata  Livia sambil cemberut. “Alah ngeles aja lo Liv, udah deh gue laper makan aja dulu, curcolnya ntar aja lanjutin”Kata Sinta. Semua pun tertawa. Mereka pun menyantap makanannya dengan sangat lahap.

Waktu menunjukkan pukul 3 sore, saatnya bel pulang berbunyi. Semua siswa pun berhamburan keluar kelas untuk pulang. Termasuk Livia, dia pulang bareng Ika dan Tami karena hari itu dia tidak membawa motor. Angkot 08 jurusan Ps. Anyar- Citeureup pun jadi pilihan mereka. Di pinggir jalan, Livia, Tami dan Ika naik angkot bareng anak-anak kelas SBI 2. Ga jauh dari tempat mereka nyetop angkot, tiba-tiba ada yang nyetop angkot mereka. Damn! Jantung Livia berdetak ga karuan, antara senang, gugup dan malu. Livia hanya bisa diam dan lirik-lirikan sama Tami dan Ika. Vivi yang merasa aneh pun bertanya, “Liv tumben banget lo diem biasanya kaya orang yang cacat mental gitu”Taya Vivi. “Tau lo kaya kesambet setan tiba-tiba jadi pendiem kaya gini”Gadis pun ikutan komentar. “Eh apaan si kalian, orang emang begini dari sananya kok, gue kan gadis pendiam kaya patung”Kata Livia. “COT banget si lo Liv, kalo kaya uler kepanasan si iya”Kata Prima. Tami dan Ika yang mengetahui penyebab Livia diam hanya tertawa saja. Angkot pun sudah sampai daerah Kopem, tiba-tiba dari arah belakang “STOP Bang!”. Cowo itu pun turun dari angkot tersebut. Ketika angkot sudah berjalan kembali,”Huaaaaa kenapa dia bisa seangkot sama gue si”Teriak Livia. “Apaan si lo bikin kaget aja Liv!”Prima pun sewot. “Itu tu ada cowo gebetannya si Livia”Ledek Tami. “Oh yang tadi turun itu?itu si adek kelas gue waktu SMP”kata Vivi. “Yaaaaang bener lo Vi?”Tanya Livia. “Seriusan, Andi Pratama namanya, dia udah punya pacar Liv, anak SMA 6 juga cuma kelas regular kalo cewenya”Kata Vivi. “Ya ampun, sabar ya Liv, baru mau nyoba move on lo, gatau nya dia udah punya cewe”Kata Ika. Livia pun hanya bisa diam, baru akan dimulai untuk membuka hati lagi, ternyata orang yang dia kagumi sejak cowo itu masuk SMA 6 pun udah punya cewe. Ya sebenarnya dia tau siapa cowo itu, sejak awal ospek dia sudah sering kali melirik dan memberi perhatian khusus kepada cowo tersebut. Namun dia hanya bisa diam dari sahabat-sahabatnya, karena dia sendiri masi belum yakin bisa hilang dari bayang-bayang masa lalunya. Baru di kelas 3 lah Livia berani memberi tahu kepada sahabat-sahabatnya kalo dia suka sama Andi, karena dia sudah yakin untuk bisa move on dari masa lalunya. Ternyata takdir masi belum bisa memihak kepada dia, untuk saat ini.

Para siswa-siswi kelas 3 di SMAN 6 Bogor sedang sibuk-sibuknya mengurus ujian nasional dan mencari info serta mendaftar Perguruan Tinggi. Begitu pun Livia dan teman-temannya. Livia pun lambat laun melupakan kejadian tersebut dan mulai konsentrasi untuk ujian nasional dan Perguruan Tinggi. Livia pun sudah mengantongi perguruan tinggi swasta tinggal focus pada ujian nasional dan mengejar SNMPTN negerinya saja.

Hari kelulusan pun tiba, Alhamdulillah siswa-siswi SMAN 6 Kota Bogor lulus 100%. Hari dimana orang paling males tapi ga afdol kalo ga dateng, yaa Hari Perpisahan. Hari itu pun Livia dan teman-temannya datang. “Sedih gabisa ketemu kalian lagi”Kata Tami. “iyaa kalian jangan sombong yaa kita semua jauh-jauh ni, gada yang sekota sama gue di Bandung”Ujar Livia sambil nangis. “Kalian yang pada di luar jangan lupain gue disini yaa, cuma gue doang yang stay di Bogor”Kata Sinta sambil ngapus air matanya. “Udah-udah sini kita pelukan yaa”Kata Prima. Prima, Vanya, Livia, Ika, Sinta, Tami pun berpelukan. “eh gue mau juga dong di peluk”Dimas pacar Vanya pun nimbrung. Semunya pun nyorakin Dimas dan tertawa, ha..ha..ha. Tami pun membisikan sesuatu kepada Livia. “Anterin gue dong ke Bima Liv, Gue pengen photo sama dia buat kenang-kenangan”Kata Tami. Sekedar info saja Bima itu gebetannya Tami semenjak kelas 2. Sayanganya cinta Tami bertepuk sebelah tangan. “Serius lo?berani banget si jadi cewe”Kata Livia. Tami pun beneran nekat!dia nyamperin Bima dan minta photo sama dia. “Liv gue udah , lo gamau photo sama Andi ni?”Tanya Tami sambil ngegoda Livia. “Emm gamau ah biarin aja dia jadi salah satu kenangan gue aja selama “putih abu-abu” Kata Livia sambil senyum datar. Livia memang memutuskan bercerita semuanya kalo dia suka sama Andi udah lama kepada Tami seorang dan bagi dia Andi Pratama hanyalah kenangan selama dia memakai “putih abu-abu”.

July 2011 adalah awal dari mahasiswa baru yang masuk Perguruan Tinggi. Livia akhirnya memutuskan untuk masuk kesalah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bandung. OSPEK pun di mulai. Para senior pun siap memangsa mahasiwa yang tidak disiplin. Livia pun berhasil melakukan OSPEK selama 3 hari tanpa bolong. Di OSPEK pun Livia berkenalan dengan teman-teman barunya. Lewat OSPEK Livia pun menemukan “teman dekat”, walaupun berbeda jurusan, mereka memutuskan untuk tetap berkomunikasi. Namanya adalah Riza. Mulai bulan November sampai tahun baru 2012, tiba-tiba Riza hilang entah kemana. Livia pun bingung. Sampai akhirnya Livia “kepo” akun twitter milik Riza. Ternyata akunnya sudah tidak pernah terpakai sejak November. Memang Livia hanya berkomunikasi sebatas lewat sms saja. Sampai dia melihat followersnya ada nama panjang Riza Januar. Livia pun meng-klik nya. Damn! Mentionnya Riza mesra dengan satu cewe bernama Nadya. Dan akun twitter itulah yang aktif. Livia hanya nangis melihat mention-mentionnya Riza. “Ternyata selama ini gue di bohongin, dia udah punya pacar dan pacarnya itu ada di Kampungnya, Palembang” Kata Livia dalam hati. Livia membaca itu sambil menahan nangis, marah gatau harus berbuat apa. Hanya ingatan masa lalu yang kembali hadir. Livia memutuskan untuk pergi ke kostan sahabatnya Ayu dan menceritakan semuanya.

“Ke..ke..napa gue selalu ka..ya gini si yu?apa takdir gue memang kaya gini? belum bisa dapetin cinta sejati gue?”Kata Livia sambil nangis. “Sabar ya Liv, pasti nanti suatu saat lo dapet yang paling terbaik buat lo”Kata Ayu. “Harus sampai kapan gue kaya gini si Yu?” Kata Livia sambil sesenggukan. “Pasti kalo emang udah waktunya, lo bakal dapet yang paling terbaik Liv, anggep ini jalan untuk mendapatkan sesuatu yang berharga. Karena sesuatu yang berharga itu ga bakal mudah untuk ngedapetinnya, yang sabar ya Liv, gue ada disini untuk Lo”Kata Ayu. “Makasi Yu, lo emang sahabat yang baik”.

Perkuliahan pun dilalui oleh Livia tanpa peduli akan cinta lagi. Walaupun semester 2 dan 3 Livia ada yang mendekati. Bagi Livia semua hanya teman, karena dia masi terbayang akan masa lalunya dan masi belum bisa membuka hatinya kembali. Pada saat semester 4, Livia mendapatkan kontak dengan salah satu sahabat SMP nya lewat skype. Sahabatnya itu bernama Riri. Mereka pun memutuskan untuk bertemu di Ciwalk. Livia pun sampai duluan pada pukul 11 pagi. Livia langsung mengeluarkan Handphonenya dari dalam tas dan menekan nomor Riri. “Hallo, dmana lo?gue udah nyampe ni, gue di depan J-co ya”Kata Livia di telepon. Tiba-tiba dari arah belakang ada yang mencubit pundak Livia. “Liviaaaaaaa, ya ampun lo masi aja kecil ya?haha ga numbuh-numbuh lo dari dulu”Teriak Riri. “Sialan lo yaa Ri, tau deh yang dietnya berhasil jadi tinggi langsing ni hoho”Kata Livia. “Haha bisa aja lo Liv, ya ampun gue kangen banget sama lo, udah lama banget kita ga ketemu yaa”Kata Riri. “Iyaa ni untung ada skype hehe, yaudah yuk masuk kita nonton aja gmana?”Tanya Livia. “Eh tunggu dulu bentar, gue mau ngasi surprise ke elo, gue mau ngenalin pacar gue ni hehe dia lagi markir mobil dulu bentar ”Kata Riri. “Eh kok gabilang-bilang si?yaa gue jadi “kambing congek” dong ni”Kata Livia sambil cemberut. “Jangan marah dulu dong, dia mau sekalian nyari buku soalnya, yaudah gue ajak aja deh, lagian asyik kok dia orangnya dan gue janji gabakal nyuekin elo malah dia yang di cuekin”Kata Riri. Dari arah belakang ada tangan yang meluk pinggang Riri. “Hai sayang sorry yaa lama, parkirannya penuh soalnya hehe”Kata cowo tersebut. Livia hanya bisa mematung seakan gapercaya dengan apa yang di lihatnya. Cowo tersebut adalah Andi Pratama, tidak salah lagi. Cowo yang pernah di taksir selama 2 tahun itu ga mungkin begitu saja hilang dari ingatan Livia. “Hey Liv, kenalin cowo gue, Andi”Kata Riri. “Hai gue Andi, udah lama ya ga ketemu”Kata Andi. “eh..i..iya hehe gue Livia”Kata Livia. “Kalian saling kenal?”Tanya Riri. “Kita satu SMA Yang”Kata Andi. “Oh bagus dong kalo gitu, jadinya ga kagok kalo kita jalan bertiga”Kata Riri. “Eh i..iya hehe”Kata Livia. Hari itu pun Livia hanya bisa diam, “Bagaimana bisa ketemu lagi sama dia. Apa ini takdir ya Tuhan?”Ujar Livia dalam hati.

Setelah hari itu, Livia hanya bisa bercerita kepada Ayu dan tentu saja Tami. Sahabatnya di SMA. Mereka berdua pun punya reaksi yang sama. “Ya ampun Liv kok bisa si?apa jangan-jangan kalian jodoh ni?. Livia tidak bisa berkomentar karena dia pun sendiri bingung. Akankah perasaan dahulunya muncul?sementara cowo tersebut sudah menjadi milik sahabatnya.

Beberapa bulan kemudian. Tepat di hari minggu. Nada dering sms di handphone Livia bunyi. Sms dari nomor tak dikenal. Bunyi sms nya :
A: Hai apa kabar?ini Andi :)
L: Sorry, Andi mana ya?
A: Andi pacarnya riri atau bahkan mantannya
L: hah?maksudnya?
A: emm gue Andi temen lo waktu SMA :)

Livia tidak mengerti maksud dari sms tersebut, akhirnya Livia memutuskan untuk menelepon Riri. “Hallo Ri, hubungan lo sama Andi baik-baik aja kan?”Tanya Livia. “Eh, Viaaaa gue pengen nangis, akhir-akhir ini hubungan gue di ujung tanduk. Andi tiba-tiba berubah, dia jadi cuek sama gue, gue takut dia punya cewe lagi Vi”Ujar Riri sambil nangis. Tanpa banyak pertanyaan lagi Livia sudah cukup untuk mengerti permasalahan sahabatnya itu. Dia pun membalas sms dari Andi. Bunyi sms nya :
L: Gue pengen ketemu lo!
A: Kok balesnya jutek banget si :)
L: Hari ini di Ngopi Doeloe Burangrang jam 1 siang
A: Eh, kok tiba-tiba?oke deh jam 1 ya :)

                Jam menunjukkan pukul st 2 siang, Livia dari tadi menunggu Andi di salah satu sudut ruangan tersebut. Yang di tunggu pun datang. “Hey, udah lama?sorry macet tadi di jalan”Ujar Andi. “ Langsung aja deh, lo kenapa sama Riri?kok bisa tiba-tiba ga ada kabar gitu si?”Kata Livia sewot. “Gue baik-baik aja kok sama dia”Ujar Andi jutek. “Jangan bohong deh lo! Kok bisa tiba-tiba gitu si?”Tanya Livia. “Fine, gue jelasin. Gue udah lama emang bosen sama dia, gue ngerasa udah ga cocok aja sama dia, cuma gue ga tega buat mutusin dia. Sampai kemaren gue udah bertekad untuk ngomong sama dia baik-baik.Cuma.. Riri ga mau gue putusin. Gue bingung harus berbuat apa, karena gue udah ga ada rasa lagi, apalagi gue..gue suka sama orang lain”Ujar Andi. “Bacot lo, kenapa semua cowo tu gampang banget mutusin cewenya, apa mereka gapunya hati?apa kaum kalian itu gampang banget untuk move on nya?”Kata Livia emosi. “ Denger dulu penjelasan gue. Sebenarnya gue gapernah suka sama Riri. Dulu waktu SMA gue punya pacar, tapi karena dia tau gue bakal kuliah di Bandung dan dia di Jogjakarta, dia mutusin gue dengan alas an gakuat pacaran jarak jauh. Gue susah banget buat Move on, mungkin karena sibuk ngurusin UN dan SNMPTN gue bisa ngelupain dia. Sampai akhirnya gue jatuh cinta lagi saat pandangan pertama. Yaa cewe itu aktif, supel dan buat gue setiap liat mukanya, pasti terpancar wajah ceria yang buat gue senyum-senyum sendiri. Cewe itu…ELO Livia. Gue suka sama lo di akhir kelulusan kita. Sayangnya gue ga ada keberanian karena masi sedikit terbayang masa lalu. Sampai akhirnya gue kuliah di ITB dan di kenalin lah Riri sama temen gue. Awalnya gue ga terlalu suka sama dia, karena gue ga dapet chemistry  dan masi kebayang-bayang wajah lo. Sampai akhirnya, gue ke kostan Riri dan ngeliat photo lo di laptopnya. Gue pun punya ide untuk macarin Riri demi ketemu lagi sama elo Liv. Mungkin gue picik dan ternyata rencana gue berhasil. Mungkin gue cowo bangsat yang hanya bisa nyakitin cewe demi cewe yang dicintainya. Apa itu salah Liv?”Ujar Andi. Livia hanya bisa mematung dan air matanya jatuh mengalir di kedua pipinya. “Gue gatau harus ngomong apa”Jawab Livia. Andi memegang tangan Livia dan menghapus air matanya “Liv gue tau lo juga suka kan sama gue?gue bisa liat dari pancaran mata lo, gausah bohongin hati lagi. Mungkin ini takdir Tuhan yang digariskan untuk kita”Kata Andi. Livia diam mematung, beberapa saat dia menarik tangannya dan lari keluar pintu tanpa menghiraukan Andi yang memanggil-manggil namanya. Hanya satu di otak Livia, yaitu kostan Ayu. Yaa dia akan menumpahkan sesak yang sangat luar biasa gejolak hatinya kepada sahabatnya itu.

            Beberapa minggu kemudian. Livia sudah mulai keliatan ceria lagi. Sejak kejadian itu, Livia ga nafsu untuk ngapa-ngapain. Telepon dan sms dari Andi pun di hiraukannya. Tiba-tiba terdengar bunyi lagu Can’t Keep My Hands Off You milik Simple Plan yang biasa menjadi Ring tone telepon masuk Livia. Di Layar ada nama Riri. “Halo Liv, gue mau ketemu sekarang di Ngopi Doeloe Buah Batu jam 12 siang ya”.

            Riri pun sudah menunggu disana, dia tidak sendirian. Ada wajah tak asing menemaninya, yaitu Andi. Livia pun dengan penuh percaya diri menghampiri mereka, Livia tidak kaget dengan keberadaan Andi. Dan Livia pun sudah siap untuk menghadapi mereka. “Hai Liv mau pesen apa?Kata Riri”. “Langsung aja deh ngomong gue ga nafsu buat minum”Ujar Livia. “Gue udah di certain sama Andi semuanya, mungkin sakit banget Liv hati gue. Tapi mau di gimanain lagi, hati seseorang ga bisa di paksain kan”Ujar Riri lirih. “Pertama gue mau ngomong, mungkin bener gue dulu suka sama elo, Apalagi bisa ketemu lo lagi disini, gue sempet berpikir kalo kita memang di takdirkan bersama. Cuma.. setelah gue merenung dan berpikir, rasa gue sekarang udah ga sama kaya dulu lagi. Mungkin awalnya emang gue seneng tapi hati gue belum bisa nerima lo lagi ndi. Maafin gue, gue gabisa bohongin perasaan gue sendiri kan”Ujar Livia. “Gue juga udah berpikir Liv, mungkin gue cowo pengecut dulu, di tambah gue pakai cara kotor buat ngedapetin hati lo. Gue rasa.. Elo Liv, Ri, dan gue kita bertiga berteman aja dulu. Bila memang takdir kita nanti untuk dipersatukan, Gue mau dengan usaha sendiri dengan cara alami buat ngedapetin hati lo Liv”Ujar Andi. “ Lo masi mau ngebuka hati buat gue kan Liv, walaupun ga sekarang”Kata Andi lagi. “Kita liat aja nanti ya ndi, kalo memang kita di takdirkan untuk bersatu, gue gabisa nolak kuasa Tuhan”Ujar Livia. “Ya udah yang paling penting, kita semua bisa jadi teman dan ga ada permusuhan, Oke?!”Kata Riri. Mereka pun berpelukan. Hanya cinta dengan cara yang alami lah yang bisa menyatukan dua insan yang berbeda menjadi satu. Walau terkadang cinta datang dan pergi tapi kita harus yakin, bahwa suatu saat nanti ntah berapa tahun lagi kita pasti akan mendapatkan cinta sejati kita, karena kita memang di takdirkan oleh Tuhan berpasang-pasangan.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar